Kekuatan Surgawi dari Membaca “RabbunAllah”

MSH.31 JUL 2011.PREPOST.BAH
Kekuatan Surgawi dari Membaca “RabbunAllah”
Seri Ramadan 2011, Volume 2
Mawlana Syekh Hisyam Kabbani
31 Juli 2011   Fenton Zawiya, Michigan


A`uudzu billahi min asy-Syaythaani 'r-rajiim. Bismillahi 'r-Rahmaani 'r-Rahiim.
Nawaytu 'l-arba`iin, nawaytu 'l-`itikaaf, nawaytu 'l-khalwah, nawaytu 'l-`uzlah,
nawaytu 'r-riyaadhah, nawaytu 's-suluuk, lillahi ta`ala fii haadza 'l-masjid.

Insyaa-Allah kita akan melanjutkan dan memperdalam apa yang kita miliki di sini, sehubungan dengan ajaran Naqsybandi dan keberkahan yang telah Allah (swt) kirimkan kepada hamba-hamba-Nya.  Pertama-tama, marilah kita letakkan fondasi: ma ahad ahsan min ahad, “Tidak ada orang yang lebih baik dari orang lainnya.”  Allah (swt) melihat setiap orang dengan Cara-Nya sendiri dan kita tidak tahu: kalian mungkin yang menjadi syekh, kalian mungkin yang menjadi murid, dan kalian mungkin bukan apa-apa.  Allah Maha Mengetahui.  Berapa banyak murid yang lebih pintar daripada syekhnya, dan Allah memberi mereka kekuatan untuk mencapai kalbu manusia?

Alhamdulillah, Allah membimbing kita dan mengarahkan kita untuk berada di gerbang Sayyidina Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani (q), yang berada di gerbang gurunya, Grandsyekh `AbdAllah al-Fa'iz ad-Daghestani (q). Kami beruntung mempunyai kesempatan bersama dengan Grandsyekh dan menyaksikan hubungan antara Grandsyekh dan Mawlana Syekh, alhamdulillah, sejak 1958 sampai Grandsyekh meninggalkan dunia ini pada tahun 1973.  Selama lima belas tahun kami menemani kedua syekh dan menyaksikan begitu banyak pengalaman yang berbeda dari mereka berdua.  Meskipun yang satu mengikuti yang lainnya, dan beginilah jalannya sejak zaman Nabi (s) hingga zaman Imam Mahdi (as), kami melihat bagaimana mereka menunjukkan kecintaan kepada Allah (swt), dan kecintaan pada Nabi (s), dan kecintaan terhadap awliyaullah dan kecintaan pada murid-murid yang bersama mereka.

Mereka seperti roket dalam pengajaran mereka.  Mereka tidak pernah kelelahan dalam menemui murid-muridnya, dan berdoa bagi mereka yang memintanya.  Mereka selalu berada di Jalan yang Lurus, Shiraath al-Mustaqiim, dengan cara sedemikian rupa, di mana menurut pengetahuan dan segala yang kami lihat pada diri mereka, setiap hari ada sesuatu yang baru yang diberikan sehingga kadang kita tidak mampu mencatatnya.  Mereka berdua adalah contoh guru-murid terbaik (sangat dekat dan penuh cinta), contoh seperti itu yang membuat kita selalu berusaha untuk berada di dekatnya.

Saya tidak bisa berkata apa-apa, kecuali mengucapkan syukran lillah dan alhamdulillah.  “Alhamdulillah” mempunyai suatu makna dan “syukran lillah” mempunyai makna sendiri dan kedua makna tersebut mempunyai perbedaan yang besar.  “Alhamdulillah” salah satu maknanya adalah mengagungkan Allah, sementara “syukran lillah” adalah berterima kasih kepada Allah.  Kalian harus mengucapkan “alhamdulillah” karena itu adalah kata pertama dalam Surat al-Fatiha.  Di sana Allah memuji Diri-Nya sendiri oleh Diri-Nya sendiri.  Tetapi syukran lillah adalah dari `abd kepada Tuhannya.  Allah tidak mengatakan “syukran lillah,” Dia mengucapkan  “alhamdulillah.” Allah tidak mengatakan, "Syukran untuk-Ku," tetapi kita mengucapkan syukran.  Tuhan kita berfirman:

لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ

Wa la in syakartum la-aziidanakum
Jika kamu bersyukur kepada-Ku, Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. (14:7)

Jadi syukr, berterima kasih, adalah sebuah perintah bagi hamba untuk diucapkan setiap saat di dalam hidupnya, di mana Allah telah memberinya minuman di dunia ini dan minum di mana setiap orang akan merasa haus di akhirat.  Jadi setiap saat, kalian harus mengucapkan “syukran lillah,” dan kalian harus mengucapkan “alhamdulillah,” yang merupakan pengagungan kepada Allah (swt).

Saya tidak pernah melihat Mawlana Syekh atau Grandsyekh mengeluh.  Mereka berdua menjalani kehidupan yang sangat sederhana, dan itu menjadi tema bagi Seri Ramadan tahun ini..



Kalian memerlukan seorang mursyid.  Tidak semua orang dapat mengatakan, “Aku adalah seorang mursyid;” karena memberikan irsyad (bimbingan) adalah satu hal, sementara itu mengajar dan memimpin zikir adalah hal lain lagi.  Bimbingan akan menempatkan kalian pada Shiraath al-Mustaqiim. Awliyaullah akan membawa pengikut mereka jika mereka mempunyai kekurangan, tetapi Shiraath al-Mustaqiim tidaklah murah, melainkan mahal.  Jalan yang dijalani oleh para syuyukh adalah seperti kehidupan di Zaman Batu, sangat primitif dan sederhana, bagi kita itu seperti kandang ayam, tetapi bagi mereka itu bagaikan istana!  Mereka tidak melihat dengan mata di kepala saja, tetapi mereka melihat dengan mata hatinya dan melihat kandang ayam itu sebagai sebuah taman surga.

Untuk membangun fondasi dari seri ini, saya akan menggambarkan rumah Grandsyekh. Rumah itu terdiri dari dua ruangan dan satu dapur.  Kamar tidur dan ruang keluarga berukuran 15 x 12 kaki.  Antara kedua ruang tersebut terdapat lorong kecil kemudian pintu menuju dapur.  Rumah itu dibuat dari lumpur dan letaknya di Gunung Qasiyoun. Pada saat itu belum ada rumah lain di gunung itu, kecuali rumah beliau.  Gunung itu sangat curam sehingga tidak ada mobil yang dapat membawa kalian ke sana, kalian harus mendaki. Ketika kami datang dari Lebanon untuk berkunjung, saat kami tiba di Damaskus, mobilnya tidak dapat mendaki di daerah yang dikenal dengan sebutan “Tal`at al-Muhajiriin, atau Bukit Kaum Muhajirin (orang-orang yang hijrah).”  Daerah pegunungan itu ramai di bagian bawah, tetapi sangat sederhana di bagian atasnya.  Kami berjalan dari tempat berhentinya taksi dan melanjutkan perjalanan dengan mendaki gunung, memerlukan waktu 60-90 menit, tergantung di mana taksi menurunkan kita.

Beliau menerima tamu di ruang keluarganya.  Pada waktu `Ashar, (suhu) di dalam sangat panas, barangkali mencapai 50 derajat Celcius (120 derajat Fahrenheit), tanpa AC, hanya kipas angin.  Kami keluar bersama Grandsyekh, semoga Allah memberkatinya dan Mawlana Syekh, dan duduk di sats al-manzil, atap rumah, di mana Grandsyekh memberikan irsyadnya.  Tempat itu begitu rupa sehingga anak kecil mungkin bisa jatuh dari sana karena tidak ada pagar di pinggir atap tersebut.  Kami dan juga tamu-tamu yang lain duduk di sana dan Mawlana minum teh setelah Salat `Ashar, dan beliau memberikan shuhbah sampai Maghrib, selama dua jam.  Seluruh Damaskus berada di bawah dan kalian dapat melihat semua jalan menuju Masjid al-Amawi; dari atas pegunungan kalian dapat melihat seluruh kota.

Di dalam rumah, dapurnya tidak mempunyai kulkas.  Secara tradisioanal, ada sebuah lemari untuk meletakkan daging kering jika mereka memilikinya, dan makanan pokok mereka adalah sayuran, minyak zaitun, keju, roti dan yoghurt.  Itulah cara mereka menjalani hidupnya.  Di luar rumah terdapat daerah wudu yang berdiri sendiri, dan saya yakin tidak ada di antara kalian yang akan pergi ke sana (karena kondisi pedesaannya).  Jadi mereka menjalani hidup yang sangat sederhana, bangun satu atau dua jam sebelum Subuh untuk salat Tahajud.  Grandsyekh melakukan wiridnya di tempat tidurnya.

Di musim dingin, mereka memanaskan tempatnya dengan tungku berbahan bakar kayu yang berbentuk seperti tong dengan satu pintu dan pipa yang bengkok, sebagian pipa itu mengeluarkan asap keluar dari jendela.  Kami datang untuk melaksanakan salat Tahajud bersama beliau dini hari sekali, dan di sana dingin sekali; kalian bisa menggigil sampai ke tulang!  Kami tiba 1.5 jam sebelum Subuh tetapi tidak bisa melihat orang lainnya karena rumah dipenuhi asap dari tungku penghangat itu! Grandsyekh (q) duduk membaca, "Allah, Allah, Allah, Allah;" beliau tidak berada di sana.  Ketika beliau melakukan wiridnya, kalian tidak bisa mendekatinya karena tajalinya begitu dahsyat hingga bila seekor singa datang ke pintunya, ia pasti akan melarikan diri!

Tajali itu berasal dari Nama Ilahi, “al-Jabbar.” Grandsyekh begitu perkasa hingga beliau memindahkan gunung; dalam hadiratnya, kalian merasa seolah-olah ada tsunami yang membawa kalian!  Kalian dapat mendengar—bukan hanya suaranya saja, tetapi begitu banyak suara yang tidak dapat kalian hitung, tak terhingga suara pembacaan zikir tersebut.

Grandsyekh, semoga Allah menganugerahinya level tertinggi bersama Nabi (s), beliau biasa berkata bahwa segera setelah beliau membuka suatu shubhah, atas perintah Nabi (s), semua jin dan awliyaullah di seluruh dunia harus hadir dan ikut mendengar apa yang beliau katakan.  Seperti itulah syekh yang kalian miliki, Grandsyekh (q)!  Beliau berkata bahwa Allah memberi mereka pendengaran surgawi sehingga mereka bisa mengarahkan diri mereka dari tempat mereka ke arah shuhbat tersebut.  Pada saat itu kami belum mengerti bagaimana, tetapi kami mempercayainya.  Sekarang Allah memperlihatkan kepada kalian kemampuan itu melalui teknologi.  Dengan Twitter, jutaan orang dapat mendengar dari timur ke barat dengan instrumen duniawi.  Ketika awliyaullah mengatakan itu, semua yang berada di bawah tajali itu membuka perangkat pendengaran mereka dan mendengarkan pelajaran tersebut.  Sekarang setiap orang dapat mendengar, jadi mengapa kita menerima kemampuan itu melalui teknologi tetapi tidak melalui awliya?

Grandsyekh (q) meminta untuk menceritakan kepada kalian mengenai Imam al-Bukhari (q), yang mengumpulkan ahadits Nabi (s), Sahih al-Bukhari.  Masjid beliau dan madrasahnya di Bukhara dapat menampung hingga lima-enam ribu orang dengan mudah, dan bila beliau sedang menyampaikan pelajarannya, paling tidak ada 25,000 orang yang menghadirinya.  Sekarang tempat itu tidak dapat menampung sebanyak itu, tetapi Allah (swt) melonggarkannya.  Jika Allah menghendaki, Dia dapat memperluas dunia ini dan melewatkannya pada sebuah lubang jarum; dapatkah jarum itu mengatakan tidak?  Jadi ketika beliau sedang memberikan pelajarannya, setiap orang di sana dapat mendengarkannya seolah-olah mereka duduk di sampingnya.  Itu bukan untuk setiap orang, itu adalah untuk orang yang disebutkan di dalam hadits:

ومازال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه فإذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع به وبصره الذي يبصر به ويده التي يبطش بها وقدمه التي يمشي بها وإذا سألني لأعطينه وإذا استغفرني لأغفرن له وإذا استعاذني أعذته
Maa zaala `abdii yataqaraba ilayya bi 'n-nawaafil hatta uhibah. Fa idzaa ahbabtahu kuntu sama`ulladzii yasma`u bihi wa basarahulladzii yubshiru bihi, wa yadahulladzii yubthisyu bihaa wa lisanahulladzii yatakallama bih.

Hamba-Ku tidak berhenti untuk mendekati-Ku melalui ibadah sunah sampai Aku mencintainya.  Ketika Aku mencintainya, Aku akan menjadi telinganya yang ia gunakan untuk mendengar, matanya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk melakukan sesuatu, dan lidahnya yang ia gunakan untuk berbicara. (Hadiits Qudsii)

Ketika kalian mempunyai pendengaran surgawi, kalian dapat mendengar maa bayn al-masyriq wa ’l-maghrib, segala sesuatu dari timur ke barat.  Itulah yang terjadi ketika beliau membuka pelajarannya dari Isma`il al-Bukhari.  Bagaimana menurut kalian mengenai kemampuan seorang wali?  Beliau adalah seorang wali, tetapi di dalam kewalian, ada beberapa level kemampuan dan ilmu yang berbeda, jadi ketika wali itu berkata, “Ketika aku berbicara, orang-orang dari timur dan barat dapat mendengar,”  jika sebuah video kamera dapat menyiarkan secara langsung ke mana-mana, bagaimana dengan seorang wali, dapatkah ia melakukannya?

Sepanjang masa kecil saya, melalui undangan ayah dan paman saya kepada para ulama dunia yang terkemuka yang datang ke rumah kami, saya belum pernah mendengar mereka berbicara bahkan satu kata pun yang melebihi keelokan kata-kata Grandsyekh dan Mawlana Syekh.  Itu bagaikan membandingkan bumi dan langit, tidak ada bandingannya! Sebagaimana bumi akan berakhir sementara surga akan kekal, `Uluum al-Awliya, ilmunya para wali tidak pernah berakhir.

Ketika Grandsyekh menyuguhkan makanan, kami memakannya di lorong di samping dapur.  Kami bersepuluh di sekitar Grandsyekh.  Bahkan walaupun hanya ada seorang anak kecil yang datang, beliau memberikan pelajaran selama tiga jam.  Beliau sering berkata, “Aku bukannya membuka ini untuknya, tetapi ia adalah sebab bagi dibukanya shuhbat ini.  Aku berbicara kepada semua awliyaullah dan semua jin dan malaikat, mereka mendengar karena mereka juga memerlukan shuhbat tersebut.”  Saya tidak bisa mengulangi shuhbat beliau; semuanya berat.  Kadang-kadang kami memberikan (shuhbat) dari (shuhbat) tersebut; kadang-kadang mereka membukakannya, terutama dalam bahasa Arab ketika kami berkunjung ke Indonesia.   Bahasa Inggris tidak dapat menyampaikan makna yang sesungguhnya.  Tidak pernah ada shuhbat-nya Grandsyekh yang serupa dengan yang sebelumnya, sementara shuhbat kami pada dasarnya semuanya serupa.

Di Madinat al-Munawwarah, ketika beliau sedang menjalankan khalwat, walaupun beliau selalu dalam keadaan khalwat, suatu ketika beliau mengizinkan Mawlana Syekh Nazim tinggal di ruangan yang sama.  Mawlana Syekh berkata, “Sejak Maghrib hingga Subuh, Grandsyekh tidak pernah tidur,” dan makanan beliau selama 24 jam berupa satu mangkuk kecil sup lentil beliau berikan kepada Mawlana Syekh; Grandsyekh hanya minum teh.  Beliau berkata, “Ketika Grandsyekh sedang bermunajat, beliau berdoa sambil berdiri tanpa henti selama empat hingga enam jam, atau bahkan sepuluh hingga dua belas jam, dan tidak ada satu doa pun yang serupa satu sama lainnya!  Apapun yang beliau doakan, beliau tidak pernah mengulanginya.”  Saya belum berbicara mengenai Mawlana Syekh Nazim, saya masih berbicara tentang Grandsyekh.

Mereka menerima semua ini karena mereka adalah kunci bagi kode semua ilmu yang Allah (swt) akan bukakan bagi hamba-hamba-Nya!  Kunci itu adalah satu kata.  Itu adalah kunci bagi segala sesuatu, kunci menuju Shiraath al-Mustaqiim.  Itulah yang Nabi (s) anjurkan untuk para Sahabat melakukan, dan para awliyaullah menganjurkan murid-muridnya untuk melakukannya, dan Islam dibangun di atasnya.  Itu adalah tawaduk, “kerendahan hati.”

فمن تواضع لله فرفعه

faman tawadha` lillahi rafa`ahu
Barang siapa yang tawaduk demi Allah, Allah akan mengangkat derajatnya.

Nabi (s) merendahkan dirinya dan Allah mengangkatnya di dalam ‘Israa dan Mi`raaj, jadi Islam dibangun atas kerendahan hati.  Jangan berpikir mengenai rasisme, karena di dalam Islam tidak ada rasisme.  Apakah kalian berkulit putih, kuning, hitam, hijau, merah, ketika kalian menjadi Muslim, kalian harus melupakan segala sesuatu yang membangun kalian, selesai!  Kalian hanya menunjukkan kerendahan hati.  Jangan katakan, “Dia berkulit putih dan mereka memasukkan kami ke dalam perbudakan,” karena itu sudah tidak ada lagi: kalian sudah menjadi Muslim.

لافرق بين عربي ولا اعجمي الا بالتقوى

laa farqa bayna `arabiyy wa laa `ajamiyy illa bi’t-taqwa.
Tidak ada perbedaan antara satu ras dengan ras yang lain, kecuali ketakwaannya.

Ketulusan hanya untuk Allah.  Jangan katakan, “Aku orang yang tulus dan ia tidak.” Mungkin saja seseorang yang tidak menutupi dirinya dengan tampil tidak tulus tetapi sebenarnya ia adalah yang paling tulus kepada Allah (swt).  Mereka ingin menempatkan kalian berada di dalam ujian (jadi, jangan menilai orang lain).

Awliyaullah dengan kaliber seperti itu hidup dengan sangat sederhana dan Allah mengangkat derajatnya.  Siapapun yang menunjukkan ketawadukannya terhadap Allah, Allah mengangkat derajatnya.  Dengan apa Allah memberi pahala kepada mereka?  Dia mengangkat mereka di dalam Mi`raaj.  Allah memberi Mi`raaj terbaik dan tertinggi kepada Nabi (s), dan para awliyaullah mewarisi sedikit dari rahasia yang diterima oleh Nabi (s) di dalam Mi`raaj beliau.  Apakah kalian ingin berada di dalam Mi`raaj?  Asosiasi ini adalah sebuah Mi`raaj!

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ

inna alladziina qaluu rabbuna Allah tsumma ’staqaamauu, tatanazaluu `alayhimu ’l-malaa’ikati alaa takhaafuu wa laa tahzanuu wa’bsyiruu  bi’l-jannatillatii kuntum tuwa`duun.

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (41:30)

Mereka yang mengatakan, “Allah adalah Tuhan kami, sang Pencipta,” akan mendapat kesetaraan!  Apakah kalian mengucapkan, “rabbunAllah?”  Kita datang ke sini untuk mengucapkan, “Yaa Rabbii!  Engkau adalah Tuhan kami!”  Jadi kata itu saja, rabbunAllah, dibaca untuk merendahkan diri kalian sehingga Allah akan mengangkat kalian.  Jadi kita katakan, “Wahai Tuhan kami!  Kami adalah hamba-Mu dan budak-Mu!”  Ketika mereka mengatakan “rabbunAllah,” mereka meletakkan langkah pertama pada Shiraath al-Mustaqiim, kemudian mereka melangkah seterusnya.  Apa yang Allah berikan kepada mereka?  Dia tidak mengatakan, “Aku memberi mereka satu hasanaat,” seperti ketika kalian melakukan sesuatu yang baik, Allah memberi kalian sepuluh hasanaat: itulah balasannya dan Allah Maha Mengetahui pahala apa yang Dia berikan.

Tetapi ketika kalian mengatakan, “Engkau adalah Tuhanku dan aku adalah budak-Mu!” dan kalian meletakkan kaki kalian pada arah Shiraath al-Mustaqiim, apa yang Allah katakan, apa yang akan Dia lakukan?  Dia berkata, “al-malaa’ikat;” Dia tidak mengatakan sepuluh malaikat, Dia mengatakan al-malaa’ikat, “tak terhingga malaikat.” Itu bisa jutaan, seratus juta, triliunan, Allah Maha Mengetahui.  Ketika sejumlah malaikat yang tak terhingga itu turun pada kalian, apa yang akan mereka lakukan?  Mereka turun dengan pahala surgawi dan mengatakan kepada kalian:

أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ

alaa takhaafuu wa laa tahzanuu wa’bsyiruu  bi’l-jannatillatii kuntum tuwa`duun.
"Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (41:30)

Itu untuk mengucapkan “rabbunAllah” sekali.  Jika kalian mengucapkannya seratus kali atau berapa pun yang kalian sukai, tidak ada batasan berapa kali malaikat akan turun pada kalian. Jadi ketika awliyaullah mengucapkan, “rabbunallah,” itu tidak seperti yang kita ucapkan; surga akan terbuka bagi mereka dan mereka membusanai pengikutnya dengan itu.

Shuhbat ini berada di bawah tajali dari ayat itu pada hari ini.  Kita akan melanjutkannya besok, insyaa-Allah.

Wa min Allahi 't-tawfiiq, bi hurmati 'l-habiib, bi hurmati 'l-Fatihah.
(Baya`)

Shuhbah itu cukup untuk menghilangkan segala kesulitan dan berbagai masalah yang dimiliki orang-orang, jadi kalian tidak perlu menyebutkan apa yang menjadi masalah kalian.  Dengan berkah dari Mawlana Syekh Nazim dan Grandsyekh (q) seolah-olah kalian baru dilahirkan. Jadi segala pertanyaan kalian akan terjawab melalui kalbu kalian, dan Nabi (s) menyaksikan setiap orang dari umatnya.  Setiap saat beliau melihat dan mendengar dan beliau meminta ampunan kepada Allah atas nama kita semua, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلاَّ لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللّهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُواْ أَنفُسَهُمْ جَآؤُوكَ فَاسْتَغْفَرُواْ اللّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُواْ اللّهَ تَوَّابًا رَّحِيمًا

wa law annahum idz zhalamuu anfusahum jaa'uuka w 'astaghfarullah w 'astaghfara lahumu 'r-rasuula la-wajad-Allah tawaaban rahiima.

Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (4:64)

Jadi kita dihadirkan kepada Nabi (s) melalui syuyukh kita dan Nabi (s) memberi syafaat bagi setiap orang untuk menghilangkan segala kesulitan dan masalah mereka, insyaa-Allah. bi hurmati 'l-Fatihah.

Dipublikasikan oleh Google Drive–Laporkan Penyalahgunaan –Dimutakhirkan secara otomatis setiap 5 menit